Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar: Haruskah Selalu Baku?

Table of Contents
Gambar “Penjelasan bahasa Indonesia yang baik dan benar, perbedaan baku dan konteks penggunaan, serta contoh dalam situasi formal dan sehari-hari.”

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

“Penjelasan bahasa Indonesia yang baik dan benar, perbedaan baku dan konteks penggunaan, serta contoh dalam situasi formal dan sehari-hari.”
“Gimana sih, Pak? Bapak mengajar Bahasa Indonesia, tapi kok ngomongnya gue, loe?”

Pertanyaan itu muncul di tengah pelajaran. Anak-anak tertawa, tapi saya tahu, itu bukan sekadar bercanda. Itu kritik.

Dan jujur, pertanyaan seperti itu penting.

Saya balik bertanya ke kalian sekarang:

memangnya Bahasa Indonesia yang baik harus selalu baku?

Mari kita luruskan pelan-pelan.

Selama ini, kita sering mengira bahwa bahasa yang baik itu sama dengan bahasa yang baku. Padahal tidak sesederhana itu.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang tepat.

Tepat kepada siapa kita berbicara, dan tepat dalam situasi apa.

Misalnya, kalian berbicara dengan teman:

“Eh, nanti jadi, nggak?”

Itu wajar. Tidak masalah.

Tapi kalau kalian berbicara dengan guru di ruang resmi:

“Selamat siang, Pak. Apakah saya boleh bertanya?”

Nah, ini juga benar, karena sesuai situasi.

Jadi, ukuran “baik” itu bukan baku atau tidak, tetapi sesuai atau tidak.

Sekarang kita bedakan dengan kata benar.

Bahasa yang benar adalah bahasa yang mengikuti aturan.

Aturannya ada di PUEBI dan KBBI.

Biasanya digunakan dalam tulisan formal.

Contohnya sederhana:

martin ruma, guru bahasa indonesia di sekolah marie joseph kelapa gading.

Ini tidak benar.

Yang benar:

Martin Ruma, guru Bahasa Indonesia di Sekolah Marie Joseph Kelapa Gading.

Di sini tidak ada soal situasi. Yang ada hanya satu: patuh atau tidak pada aturan.

Jadi sekarang kita simpulkan:

  • Baik → sesuai konteks
  • Benar → sesuai kaidah

Keduanya penting, tapi tidak selalu muncul bersamaan dalam setiap situasi.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal.

Apakah saya salah ketika mengatakan gue, loe di kelas?

Jawabannya bukan ya atau tidak.

Jawabannya: tergantung konteksnya.

Kalau itu membuat komunikasi lebih dekat dan tetap pada tempatnya, maka itu masih bisa disebut “baik”.

Tapi kalau digunakan dalam tulisan resmi, jelas tidak “benar”.

Jadi, sebelum kita sibuk menilai bahasa orang lain, coba kita tanyakan satu hal:

bahasa itu kita gunakan untuk apa?

Untuk sekadar patuh pada aturan,

atau untuk benar-benar saling memahami?

Posting Komentar