Guru Juga Bisa Tidak Siap: Catatan Jujur di Minggu Pertama Setelah Libur

Gambar Martin Ruma, admin blog Ruma aksara dan Guru Bahasa Indonesia di Sekolah Marie Joseph sedang bersama siswi putri
Martin Ruma admin blog Ruma Aksara bersama siswi SMA Marie Joseph Jakarta/Dok pribadi
Hari pertama masuk sekolah setelah libur Idulfitri selalu punya suasana yang sulit dijelaskan. Kelas terasa lebih hidup, lebih bising, tapi juga lebih manusiawi. Anak-anak datang dengan cerita, tawa, dan sisa-sisa liburan yang belum sepenuhnya selesai.

Senin, 25 Maret 2026, saya berdiri di depan kelas dengan satu kesadaran yang cukup mengganggu: saya belum siap mengajar.

Bukan tidak mau. Bukan juga tidak peduli. Hanya saja, ada jeda yang belum benar-benar pulih. Pikiran belum sepenuhnya kembali, sementara peran sudah menunggu untuk dijalankan.

Akhirnya, saya mengambil keputusan yang sederhana, dan mungkin sedikit berisiko.

Saya tidak membuka materi. Tidak mengajak mereka masuk ke teori. Saya hanya memberi ruang.

“Silakan kalau mau cerita,” kira-kira begitu yang saya sampaikan, seadanya.

Dan kelas langsung hidup.

Mereka berbicara, tertawa, saling menyela, bahkan ada yang berdiri hanya untuk memastikan ceritanya didengar. Saya duduk di depan, memperhatikan. Sesekali ikut tersenyum. Tidak banyak bicara.

Di situ saya sadar, mungkin hari itu mereka tidak butuh pelajaran. Mereka butuh ruang untuk kembali menjadi diri mereka sendiri.

Apakah itu profesional?

Saya tidak tahu pasti. Tapi yang saya tahu, memaksakan materi dalam keadaan tidak siap rasanya jauh lebih tidak jujur.

Hari Selasa, saya izin tidak masuk. Kondisi tubuh tidak cukup diajak kompromi. Dari rumah, saya hanya sempat mengingatkan mereka untuk mengumpulkan proyek film pendek yang sebelumnya sudah disepakati.

Lalu hari Rabu, saya kembali ke kelas. Kelas XII menunggu.

Dan jujur saja, perasaan itu belum banyak berubah.

Saya masih belum sepenuhnya siap.

Di titik ini, saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini mungkin saya hindari: menjadi guru tidak selalu tentang kesiapan yang sempurna. Kadang, justru tentang keberanian untuk tetap hadir, bahkan saat kita belum benar-benar siap.

Karena pada akhirnya, kelas bukan hanya ruang untuk menyampaikan materi.

Ia adalah ruang pertemuan antara manusia, yang sama-sama sedang belajar. Saya belajar mengajar, mereka belajar memahami.

Dan mungkin, di hari-hari seperti itu, yang paling penting bukanlah seberapa banyak materi yang selesai, tetapi seberapa jujur kita hadir di dalamnya.

Saya masih ingin menjadi guru yang baik. Itu pasti.

Tapi sekarang, saya juga sedang belajar menjadi guru yang jujur.

Jujur bahwa saya bisa lelah.

Jujur bahwa saya bisa tertinggal.

Dan jujur bahwa saya pun, seperti mereka, sedang terus belajar.

Maka hari itu saya memilih satu hal yang paling sederhana: tetap berdiri di depan kelas.

Tidak sempurna, tapi nyata.

Dan dalam diam, saya berkata,

Maafkan saya, anak-anak. Hari ini, kita belajar dengan cara yang berbeda.

Posting Komentar untuk "Guru Juga Bisa Tidak Siap: Catatan Jujur di Minggu Pertama Setelah Libur"